REVIEW
MALINOWSKI : FUNGSIONALISME

Disusun untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Teori Antropologi
Disusun Oleh:
Ahmad Mutho’illah 3401412141
PENDIDIKAN SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
MALINOWSKI : FUNGSIONALISME
1.
Pengantar
Malinowski sebagai Etnograf dan sebagai Fungsionalis
Bronislaw K. Malinowski adalah seorang kelahiran Polandia. Ia
mendapat gelar doktor di Krakow dengan membawakan satu pokok persoalan mengenai
kimia. Kemudian belajar antropologi di bawah Seligman. Ia mendapatkan gelar
Ph.D. dengan membawakan disertasi, The Family pamong the Australian Aborigines.
Kemudian ia berangkat ke Australia untuk melakukan kerja lapangan di Papua dan
di Kepulauan Trobriand. Karena perang, ia terhalang untuk kembali ke Eropa.
Suatu kesempatan baginya untuk melakukan pekerjaan lapangan yang sangat
intensif di kepulauan Trobriand. Ia mempelajari bahasanya dan juga karena
beberapa kali datang kembali menjadi tamu yang disukai oleh orang-orang
Trobriand, dan yang mendapat kepercayaan yang semakin besar dari mereka.
Haislnya ialah pekerjaan lapangan dengan kualitas yang sebelumnya belum pernah
dikenal. Dari karya Malinowski itu ternyata bahwa di antara mereka juga ada
perbedaan individual seperti di antara orang kulit putih. Buku pertama
malinowski tentang orang Trobriand menguraikan hubungan tukar-menukar dalam perdagangan
dan hadiah di antara orang-orang Trobriand sendiri dan dengan para penduduk
dari kelompok pulau di sekitarnya secara terperinci. Kehidupan perkawinan dan
masalah hubungan keluarga orang-orang Trobriand dibahas oleh Malinowski dam
bukunya Sex Ana Repression in Savage Society, sedangkan bukunya Coral Gardens
and their Magic membahas pertanian dan ritual.
Dua hal yang memberi sumbangan penting untuk sukses karya
Malinowski ialah bahasa inggrisnya yang bagus dan bakatnya untuk mengatur
bahannya di sekitar sejumlah tema-tema sentral. Dengan demikian ia menjadi
bapak dari facet-etnografis, penggambaran etnografis yang diabadikan pada segi
tertentu dari kebudayaan. Dengan demikian juga segi-segi yang merugikan dari
cara penanganan seperti ini jadi semakin diketajui umum. Selalu ada pokok-pokok
persoalan yang berada di luar aspek yang dibahas. Maka pembahasannya ditunda
sampai sebuah buku lain atau satu kesempatan khusus, dengan akibat bahwa
sebagian dari bahan yang telah dikumpulkan tidak pernah diterbitkan atau
diterbitkan begitu lama kemudian, sehingga catatan yang dulu di buat di
lapangan tidak lagi mendapat dukungan daya ingat dan menghambarkan gambaran .
selain itu memakan waktu sangat lama sebelum bahan-bahan itu dapat dibaca
selengkapnya. Walaupun buku ini agak sulit dipahami, tetapi ia telah menulis di
dalamnya segala sesuatu yang dilihatnya, satu hal yang memang menjadi kewajiban
utama bagi seorang penyelidik.
Sudah tentu kritik tidak menghilangkan Malinowski sebagai seorang
etnograf, yang karena pengaruhnya telah sangat memperbaiki mutu pekerjaan
lapangan. Dalam hubungan ini, juga penting fungsionalismenya, yang terutama
mendapatkan artinya dari perhatian yang dimintanya terhadap pengertian terhadap
berbagai kebiasaan dan kelaziman sehubungan dengan kebudayaan sebagai
keseluruhan.
Analisa dari bahan fakta Australia mengajarkan bahwa:
a.
Ada
hak dominan dari suami dalam hubungan seks dengan istrinya.
b.
Hubungan
istrinya dengan orang-orang lain berkaitan erat dengan perjanjian di mana ia
sendiri terlibat.
c.
Hubungan
seperti itu tergantung dari izinnya.
d.
Kesucian
dalam hubungan seks di Australia tidak dianggap sebagai hal yang penting.
e.
Kecemburuan
seksual juga benar-benar ada di Australia,
Penyelidikan itu telah memberi kesempatan kepadanya untuk sekali
lagi memperjelas secara tepat, bahwa perkawinan pirauru jelas tidak dapat
dipandang sebagai perkawinan kelompok.
2.
Malinowski
tentang Hukum dan Undang-Undang. Hobel. Pospisil
Gejala kebudayaan lain yang dibahas oleh Malinowski dalam The
Family among the Australian Aborigines ialah soal undang-undang. Ia mengadakan
pembedaan antara undang-undang dan adat undang-undang, hukum dalam buku ini
ialah adat(kebiasaan) yang disertai sanksi untuk ditaati.
Setelah penyelidikannya di antara orang-orang Trobrian, ia kembali
pada pengertian undang-undang dalam bukunya Crime and Custom in savage society,
yang terutama untuk melawan pikiran, bahwa ada semacam komunisme primitif,
seperti yang pernah diduga oleh Rivers. Hak milik perorangan itu jelas dikenal
dan atas pemilikan itu terdapat satu sistem kebawiban yang sangat ruwet yang
dikuasai oleh peraturan.
Pada Malinowski pengertian yang begitu tajam dan jelas seperti itu
tidak terdapat. Peraturan yang berkaitan dengan biding obligations menurut
sifatnya mempunyai watak yang sangat berbeda-beda. “obligations” itu bisa
serupa pembayaran satu barang ayan di beli. Tetapi “obligations” bisa juga
berarti keharusan membagikan daging yang berasal dari sesajian atau dari hasil
pemburuan.
Semuanya ini membuat kita telah jauh keluar dari buku Malinowski
Crime and Custom. Ada dua jasa dari buku ini. Pertama, ia membantah secara
menyakinkan pemikiran tentang komunisme primitif. Kedua, ia menunjukan dengan
jelas arti dari prinsip timbal balik.
3.
Malinowski
tentang Religi
Gagasan Malinowski tentang religi dalam tulisan Esai Magic, Science
and religion yang diterbitkan oleh Redfield, menggunakan bahan-bahan yang
dikumpulkannya dari kalangan orang-orang Trobriand, Malinowski menunjukan
panjang lebar, bahwa orang-orang Trobriand adalah petani dan pembuat perahu
yang pandai dengan wawasan yang baik tentang teknik yang diperlukannya. Malinowski
telah memberikan sumbangan yang sangat positif kepada pengertian kita tentang
gejala magi, dan di samping itu telah memberikan isi lain dari pada yang telah
diberikan oleh mereka yang mendahuluinya. Menurut Malinowski, Magi dan Religi,
kedua-duanya termasuk dalam bidang sakral, satu kategori yang tidak dibei
definisi lebih lanjut, tetapi menurut pemikiran Malinowski mungkin paling baik
dapat diterangkan dengan istilah supernatural. Magi harus dibedakan dari
religi, karena magi diarahkan pada tujuan-tujuan yang kongkret dan jelas uraiannya.
Malinowski mengemukakan observasinya yang bagus, bahwa kebiasaan
itu bercirikan perasaan ambivalen: di satu pihak rasa ngeri dan takut terhadap
kematian dan orang yang mati, di lain pihak rasa kasih sayang yang benar-benar
terhadap orang yang meninggal itu. Tetapi dalam penggarapanya yang lebih laju,
retoriknya lagi yang menonjol. Orang liar itu takut terhadap kematian dan
berusaha mengatasinya dengan berpegang pada apa saja untuk lolos dari kematian,
dan kesempatan itu didapatnya pada kepercayaannya dam hidup yang kekal. Rasa
takut terhadap kematian membawa dia pada penafsiran gejala impian yang
disinyalir oleh Tylor sebagai pembenaran akan kepercayaan dalam hidup yang
kekal. Pertanyaan itu dimuat dalam suatu nyanyian pujian yang benar-benar
merupakan pujian bagi kebajikan religi, yang jelas dimaksudkan untuk menolong
si pembaca dengan kesimpulan yang wajar, bahwa dalam religi soalnya hanyalah
“wishful thinking”
Begitu pula ritus-ritus diberi keterangan menurut resep yang sama.
Ritus itu mempunyai fungsi. Ritus inisiasi itu fungsinya adalah “sacralizing
tradition”
Keterangan mengenai magi, yang mengikuti jejak merett, menimbulkan
keberatan-keberatan serupa. Pembuatan meniru, yang didikte oleh emosi dan nafsu
yang kuat dipandang secara subjektif, mempunyai nilai perbuatan yang
sungguh-sungguh, dan yang seharusnya dilakukan oleh manusia, jika ia tidak
dihalangi.
Secara ringkas dapat dinyatakan, bahwa Malinowski tidak berhasil
memberi jawaban terhadap permasalahan religi yang sebenarnya. Pernyataan
bagaimana orang bisa dipercaya, menganggap sebagai kebenaran segala sesuatu
yang bentuk kepercayaan religius diterima sebagai kebenaran oleh orang-orang
yang percaya, tidak di bahas secara sungguh-sungguh. Satu-satunya hal yang
mendapat perhatianya ialah fungsi dari gagasan religius ini dalam peristiwa
masyarakat. Menganggap bahwa apa yang berguna bagi masyarakat, apa yang memberi
pegangan moral atau yang nampaknya menarik secara sosial itu dianggap benar,
bukanlah pangkal pikiran yang dapat diterima secara ilmiah. “sayang tuhan tidak
ada”, kata Sartre, tetapi pernyataan itu tidak membawanya kepada kepercayaan.
Dengan pembahasan gejala religius ini adalah pembahasan yang dangkal, yang
antara lain menjurus kepada berlangsungnya perbedaan rumus antara religi dan
magi, yang akhirnya berakibat, bahwa masih saja tidak atau tidak cukup
diperhatikannya kenyataan, bahwa magi adalah satu bentuk tersendiri dari
religi.
Keuntungan dari fungsionalismenya Malinowski ialah perhatian yang
semakin meningkat terhadap seluk beluk dan tempatnya gejala religi dalam
peristiwa masyarakat. Satu pendapat terakhir tentang arti Malinowski. Bahwa
arti Malinowski tidak terletak dalam teorinya tentang fungsionalisme, tetapi
dalam daya rangsang yang dihasilkan oleh karya lapangannya. Lebih dari siapa
pun sebelumnya ia telah mengajarkan
kepada kita untuk melihat manusia seperti kita sendiri. Sudah tentu
manusia dengan gagassan-gagasan yang sama sekali lain, tetapi dalam perinsipnya
sama kodratnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar