Pages

Minggu, 29 September 2013

MALINOWSKI : FUNGSIONALISME

REVIEW
MALINOWSKI : FUNGSIONALISME




Disusun untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Teori Antropologi

Disusun Oleh:
Ahmad Mutho’illah    3401412141



 



PENDIDIKAN SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

MALINOWSKI : FUNGSIONALISME

1.      Pengantar Malinowski sebagai Etnograf dan sebagai Fungsionalis
Bronislaw K. Malinowski adalah seorang kelahiran Polandia. Ia mendapat gelar doktor di Krakow dengan membawakan satu pokok persoalan mengenai kimia. Kemudian belajar antropologi di bawah Seligman. Ia mendapatkan gelar Ph.D. dengan membawakan disertasi, The Family pamong the Australian Aborigines. Kemudian ia berangkat ke Australia untuk melakukan kerja lapangan di Papua dan di Kepulauan Trobriand. Karena perang, ia terhalang untuk kembali ke Eropa. Suatu kesempatan baginya untuk melakukan pekerjaan lapangan yang sangat intensif di kepulauan Trobriand. Ia mempelajari bahasanya dan juga karena beberapa kali datang kembali menjadi tamu yang disukai oleh orang-orang Trobriand, dan yang mendapat kepercayaan yang semakin besar dari mereka. Haislnya ialah pekerjaan lapangan dengan kualitas yang sebelumnya belum pernah dikenal. Dari karya Malinowski itu ternyata bahwa di antara mereka juga ada perbedaan individual seperti di antara orang kulit putih. Buku pertama malinowski tentang orang Trobriand menguraikan hubungan tukar-menukar dalam perdagangan dan hadiah di antara orang-orang Trobriand sendiri dan dengan para penduduk dari kelompok pulau di sekitarnya secara terperinci. Kehidupan perkawinan dan masalah hubungan keluarga orang-orang Trobriand dibahas oleh Malinowski dam bukunya Sex Ana Repression in Savage Society, sedangkan bukunya Coral Gardens and their Magic membahas pertanian dan ritual.
Dua hal yang memberi sumbangan penting untuk sukses karya Malinowski ialah bahasa inggrisnya yang bagus dan bakatnya untuk mengatur bahannya di sekitar sejumlah tema-tema sentral. Dengan demikian ia menjadi bapak dari facet-etnografis, penggambaran etnografis yang diabadikan pada segi tertentu dari kebudayaan. Dengan demikian juga segi-segi yang merugikan dari cara penanganan seperti ini jadi semakin diketajui umum. Selalu ada pokok-pokok persoalan yang berada di luar aspek yang dibahas. Maka pembahasannya ditunda sampai sebuah buku lain atau satu kesempatan khusus, dengan akibat bahwa sebagian dari bahan yang telah dikumpulkan tidak pernah diterbitkan atau diterbitkan begitu lama kemudian, sehingga catatan yang dulu di buat di lapangan tidak lagi mendapat dukungan daya ingat dan menghambarkan gambaran . selain itu memakan waktu sangat lama sebelum bahan-bahan itu dapat dibaca selengkapnya. Walaupun buku ini agak sulit dipahami, tetapi ia telah menulis di dalamnya segala sesuatu yang dilihatnya, satu hal yang memang menjadi kewajiban utama bagi seorang penyelidik.
Sudah tentu kritik tidak menghilangkan Malinowski sebagai seorang etnograf, yang karena pengaruhnya telah sangat memperbaiki mutu pekerjaan lapangan. Dalam hubungan ini, juga penting fungsionalismenya, yang terutama mendapatkan artinya dari perhatian yang dimintanya terhadap pengertian terhadap berbagai kebiasaan dan kelaziman sehubungan dengan kebudayaan sebagai keseluruhan.
Analisa dari bahan fakta Australia mengajarkan bahwa:
a.       Ada hak dominan dari suami dalam hubungan seks dengan istrinya.
b.      Hubungan istrinya dengan orang-orang lain berkaitan erat dengan perjanjian di mana ia sendiri terlibat.
c.       Hubungan seperti itu tergantung dari izinnya.
d.      Kesucian dalam hubungan seks di Australia tidak dianggap sebagai hal yang penting.
e.       Kecemburuan seksual juga benar-benar ada di Australia,
Penyelidikan itu telah memberi kesempatan kepadanya untuk sekali lagi memperjelas secara tepat, bahwa perkawinan pirauru jelas tidak dapat dipandang sebagai perkawinan kelompok.
2.      Malinowski tentang Hukum dan Undang-Undang. Hobel. Pospisil
Gejala kebudayaan lain yang dibahas oleh Malinowski dalam The Family among the Australian Aborigines ialah soal undang-undang. Ia mengadakan pembedaan antara undang-undang dan adat undang-undang, hukum dalam buku ini ialah adat(kebiasaan) yang disertai sanksi untuk ditaati.
Setelah penyelidikannya di antara orang-orang Trobrian, ia kembali pada pengertian undang-undang dalam bukunya Crime and Custom in savage society, yang terutama untuk melawan pikiran, bahwa ada semacam komunisme primitif, seperti yang pernah diduga oleh Rivers. Hak milik perorangan itu jelas dikenal dan atas pemilikan itu terdapat satu sistem kebawiban yang sangat ruwet yang dikuasai oleh peraturan.
Pada Malinowski pengertian yang begitu tajam dan jelas seperti itu tidak terdapat. Peraturan yang berkaitan dengan biding obligations menurut sifatnya mempunyai watak yang sangat berbeda-beda. “obligations” itu bisa serupa pembayaran satu barang ayan di beli. Tetapi “obligations” bisa juga berarti keharusan membagikan daging yang berasal dari sesajian atau dari hasil pemburuan.
Semuanya ini membuat kita telah jauh keluar dari buku Malinowski Crime and Custom. Ada dua jasa dari buku ini. Pertama, ia membantah secara menyakinkan pemikiran tentang komunisme primitif. Kedua, ia menunjukan dengan jelas arti dari prinsip timbal balik.

3.      Malinowski tentang Religi
Gagasan Malinowski tentang religi dalam tulisan Esai Magic, Science and religion yang diterbitkan oleh Redfield, menggunakan bahan-bahan yang dikumpulkannya dari kalangan orang-orang Trobriand, Malinowski menunjukan panjang lebar, bahwa orang-orang Trobriand adalah petani dan pembuat perahu yang pandai dengan wawasan yang baik tentang teknik yang diperlukannya. Malinowski telah memberikan sumbangan yang sangat positif kepada pengertian kita tentang gejala magi, dan di samping itu telah memberikan isi lain dari pada yang telah diberikan oleh mereka yang mendahuluinya. Menurut Malinowski, Magi dan Religi, kedua-duanya termasuk dalam bidang sakral, satu kategori yang tidak dibei definisi lebih lanjut, tetapi menurut pemikiran Malinowski mungkin paling baik dapat diterangkan dengan istilah supernatural. Magi harus dibedakan dari religi, karena magi diarahkan pada tujuan-tujuan yang kongkret dan jelas  uraiannya.
Malinowski mengemukakan observasinya yang bagus, bahwa kebiasaan itu bercirikan perasaan ambivalen: di satu pihak rasa ngeri dan takut terhadap kematian dan orang yang mati, di lain pihak rasa kasih sayang yang benar-benar terhadap orang yang meninggal itu. Tetapi dalam penggarapanya yang lebih laju, retoriknya lagi yang menonjol. Orang liar itu takut terhadap kematian dan berusaha mengatasinya dengan berpegang pada apa saja untuk lolos dari kematian, dan kesempatan itu didapatnya pada kepercayaannya dam hidup yang kekal. Rasa takut terhadap kematian membawa dia pada penafsiran gejala impian yang disinyalir oleh Tylor sebagai pembenaran akan kepercayaan dalam hidup yang kekal. Pertanyaan itu dimuat dalam suatu nyanyian pujian yang benar-benar merupakan pujian bagi kebajikan religi, yang jelas dimaksudkan untuk menolong si pembaca dengan kesimpulan yang wajar, bahwa dalam religi soalnya hanyalah “wishful thinking”
Begitu pula ritus-ritus diberi keterangan menurut resep yang sama. Ritus itu mempunyai fungsi. Ritus inisiasi itu fungsinya adalah “sacralizing tradition”
Keterangan mengenai magi, yang mengikuti jejak merett, menimbulkan keberatan-keberatan serupa. Pembuatan meniru, yang didikte oleh emosi dan nafsu yang kuat dipandang secara subjektif, mempunyai nilai perbuatan yang sungguh-sungguh, dan yang seharusnya dilakukan oleh manusia, jika ia tidak dihalangi.
Secara ringkas dapat dinyatakan, bahwa Malinowski tidak berhasil memberi jawaban terhadap permasalahan religi yang sebenarnya. Pernyataan bagaimana orang bisa dipercaya, menganggap sebagai kebenaran segala sesuatu yang bentuk kepercayaan religius diterima sebagai kebenaran oleh orang-orang yang percaya, tidak di bahas secara sungguh-sungguh. Satu-satunya hal yang mendapat perhatianya ialah fungsi dari gagasan religius ini dalam peristiwa masyarakat. Menganggap bahwa apa yang berguna bagi masyarakat, apa yang memberi pegangan moral atau yang nampaknya menarik secara sosial itu dianggap benar, bukanlah pangkal pikiran yang dapat diterima secara ilmiah. “sayang tuhan tidak ada”, kata Sartre, tetapi pernyataan itu tidak membawanya kepada kepercayaan. Dengan pembahasan gejala religius ini adalah pembahasan yang dangkal, yang antara lain menjurus kepada berlangsungnya perbedaan rumus antara religi dan magi, yang akhirnya berakibat, bahwa masih saja tidak atau tidak cukup diperhatikannya kenyataan, bahwa magi adalah satu bentuk tersendiri dari religi.

Keuntungan dari fungsionalismenya Malinowski ialah perhatian yang semakin meningkat terhadap seluk beluk dan tempatnya gejala religi dalam peristiwa masyarakat. Satu pendapat terakhir tentang arti Malinowski. Bahwa arti Malinowski tidak terletak dalam teorinya tentang fungsionalisme, tetapi dalam daya rangsang yang dihasilkan oleh karya lapangannya. Lebih dari siapa pun sebelumnya ia telah mengajarkan  kepada kita untuk melihat manusia seperti kita sendiri. Sudah tentu manusia dengan gagassan-gagasan yang sama sekali lain, tetapi dalam perinsipnya sama kodratnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar